efek estetika-usabilitas
mengapa kita cenderung menganggap barang indah lebih mudah dipakai
Pernahkah kita membeli sebuah barang hanya karena bentuknya sangat memanjakan mata? Misalnya, kita sengaja membeli mesin kopi estetik bergaya minimalis. Atau mungkin, kita mengunduh aplikasi dengan desain antarmuka yang sangat mulus dan cantik. Namun saat pertama kali memakainya, ternyata tombol-tombolnya membingungkan dan tidak intuitif. Anehnya, dalam situasi seperti itu, kita jarang sekali marah pada barangnya. Kita malah lebih sering menyalahkan diri sendiri. Kita mungkin membatin, "Ah, mungkin saya yang terlalu gaptek," atau "Sayanya saja yang belum terbiasa." Pertanyaannya, mengapa kita bisa selembek itu pada barang yang cantik?
Untuk menjawabnya, mari kita mundur sedikit ke tahun 1995 di Jepang. Dua peneliti dari Hitachi Design Center bernama Masaaki Kurosu dan Kaori Kashimura melakukan sebuah eksperimen sederhana. Eksperimen inilah yang kelak mengubah cara dunia memandang desain teknologi. Mereka membuat 26 desain antarmuka mesin ATM. Secara fungsi, ke-26 mesin ini persis sama. Cara kerjanya sama persis. Jumlah tombol dan langkah transaksinya juga tidak ada yang berbeda. Bedanya hanya satu: seberapa cantik penataan visual di layar tersebut. Logikanya, karena fungsinya sama, orang akan menilai tingkat kemudahannya sama saja, bukan? Ternyata dugaan itu keliru. Para peserta eksperimen secara konsisten bersikeras bahwa ATM yang layarnya lebih indah terasa jauh lebih mudah digunakan.
Temuan aneh ini tentu memunculkan pertanyaan besar bagi kita. Mengapa otak kita mengaitkan keindahan visual dengan kemudahan fungsi? Apakah mata kita sedang menipu logika kita? Ataukah ada semacam "korsleting" di dalam saraf kita saat berhadapan dengan sesuatu yang menawan? Perusahaan teknologi raksasa sangat menyadari fenomena ini. Mereka sengaja mendesain produk yang tampilannya memukau, membuat kita rela mengabaikan baterai yang cepat habis atau antarmuka yang sebenarnya ribet. Tapi apa sebenarnya yang terjadi di dalam kepala kita? Mengapa kita begitu rela memaafkan kecacatan fungsi demi sebuah estetika visual?
Dalam dunia psikologi kognitif dan interaksi manusia-komputer, fenomena ini memiliki nama resmi: aesthetic-usability effect (efek estetika-usabilitas). Secara biologis, ini bukanlah sebuah kelemahan, melainkan cara otak kita mengambil jalan pintas. Saat kita melihat benda yang indah, otak langsung melepaskan dopamin. Respon emosional yang positif ini dengan cepat membanjiri amygdala, yaitu pusat kendali emosi di otak kita. Nah, luapan emosi positif ini menciptakan apa yang disebut psikolog sebagai halo effect atau efek halo. Kita secara otomatis menganggap bahwa jika sesuatu itu baik di satu sisi (penampilan), maka ia pasti baik di sisi lainnya (fungsi). Keindahan visual ternyata menurunkan beban kognitif kita. Kita menjadi lebih rileks dan jauh lebih sabar saat memencet tombol yang salah. Akibatnya, kita merasa barang tersebut mudah dipakai, padahal kebenarannya adalah kitalah yang sedang bersedia menoleransi kesulitannya karena suasana hati kita sedang bagus.
Mengetahui fakta sains ini bukan berarti kita harus berhenti membeli barang-barang estetik. Wajar saja jika kita menyukai keindahan. Bagaimanapun juga, kita adalah manusia yang digerakkan oleh emosi, bukan sekadar kalkulator berjalan. Namun, memahami aesthetic-usability effect memberi teman-teman dan saya satu senjata baru yang sangat penting: kemampuan berpikir kritis. Saat berikutnya kita frustrasi menggunakan alat seduh kopi mahal atau tersesat di menu aplikasi perbankan yang sok minimalis, berhentilah menyalahkan diri sendiri. Kita tidak bodoh, dan kita tidak tertinggal zaman. Kita hanya sedang berhadapan dengan desain yang mengandalkan paras cantik untuk menutupi kinerjanya yang buruk. Keindahan memang selalu berhasil membuka pintu ketertarikan kita. Tapi pada akhirnya, fungsionalitas dan kemudahanlah yang membuat hidup kita benar-benar lebih baik. Mari menjadi konsumen yang menghargai keindahan, tapi tidak bisa dibodohi olehnya.